
Gender Equality Diversity and Inclusion (GEDI) | November 4, 2026
Bergerak dan Merawat dalam Perlawanan
Bolby Nasution
Ada kekhasan tersendiri dari cara gerakan feminis mengorganisir dan mempertahankan dirinya. Dari pembelajaran ibu-ibu yang berdiri di Plaza de Mayo, Argentina di tahun 1970-an hingga ibu-ibu yang berdiri di Bundaran HI, Jakarta, Indonesia pada tahun 1998, gerakan feminis selalu menggunakan cara melawan yang tak terlalu lazim: politik perawatan.

Kalau kita merujuk dari “Care Manifesto” oleh Care Collective, “perawatan adalah kemampuan diri kita dan sejawat untuk menyediakan ruang dan kondisi politis, sosial, material, dan emosional agar banyak orang dan makhluk hidup di planet ini dapat hidup dengan sebaik-baiknya.”
Di masyarakat, kerja-kerja perawatan acap kali diasosiasikan sampai kerja-kerja domestik saja. Padahal, kerja perawatan juga mencakup kerja-kerja pengorganisiran, termasuk dalam gerakan sosial.
Sayangnya, kerja perawatan di dalam giat aktivisme sering kali tak dihiraukan. Banyak aktivis di gerakan sosial masih mengusungi, mewariskan, dan bahkan mereproduksi ulang gagasan maskulin dalam cara-cara mereka mengorganisir diri. Misalnya, menjadi martir dianggap heroik, kelelahan dinormalisasikan, dan keharusan untuk terus hadir tanpa memedulikan kondisi mental individu menjadi syarat utama agar dianggap sebagai aktivis yang baik.
Gagasan maskulinitas ini juga terlihat ketika konsep perawatan diremehkan, apalagi untuk individu. Perawatan dianggap tak produktif, sebuah hambatan, dan bahkan kelemahan. Untuk banyak orang, memprioritaskan kesehatan dan kebaikan diri merupakan pengkhianatan terhadap gerakan dan orang-orang yang sedang ‘dibela’.
Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan perempuan dan feminis kerap mengkritisi budaya dalam gerakan perlawanan yang maskulin. Bagi feminis, perawatan dalam perlawanan seharusnya tidak hanya dilakukan untuk menjamin keberlanjutan gerakan, tetapi juga sebagai cara untuk menghadirkan nilai-nilai anti-kekerasan dalam perlawanan yang dilakukan
Dalam gerakan perempuan dan feminis, apalagi akhir-akhir ini, budaya maskulin ini selalu dikritisi. Dalam gerakan feminis, perlawanan dengan perawatan tak hanya terlihat dalam cara menjamin keberlanjutan gerakan tetapi juga bahkan sebagai ‘senjata’ dalam metode aksi nirkekerasannya.
Perawatan sebagai metode perlawanan
Gerakan feminis menggunakan identitas mereka yang seringkali diremehkan atau bahkan tak dihiraukan sebagai taktik melawan ketidakadilan. Misalnya, gerakan feminis selalu mengaitkan politik sehari-hari dengan masalah struktural di level yang lebih tinggi.
Hal ini terlihat dalam periode kediktatoran di Argentina pada tahun 1970-an. Ibu-ibu Plaza de Mayo (disebut sebagai Las Madres) memimpin perlawanan anti rezim diktator. Menggunakan identitas mereka sebagai seorang ibu ataupun istri, identitas yang seringkali dianggap apolitis atau tak memiliki daya, mereka berjalan ke Plaza de Mayo yang terletak di jantung kota Buenos Aires.
Tuntutan mereka sederhana: mempertanyakan di mana anak mereka—para korban penghilangan paksa. Awalnya, aksi mereka hanya dilihat sebatas ‘ibu yang khawatir terhadap anaknya’, karena secara tradisional sudah semestinya seorang ibu, yang lazimnya mengerjakan tugas-tugas pengasuhan anak, bertugas memastikan keselamatan anaknya. Identitas inilah yang dianggap tak mengancam dan tak memiliki daya. Taktik ini bekerja. Aksi mereka bergulir menjadi aksi anti-junta militer yang masif, di mana kelompok gerakan lain seperti serikat buruh turut ikut ke jalan.
Hal serupa terjadi di Jakarta pada tahun 1998. Segerombol ibu-ibu yang menamai diri mereka sebagai Suara Ibu Peduli mengorganisir diri untuk melawan rezim Orde Baru yang anti terhadap demokrasi. Mereka membingkai gerakan mereka sebagai ‘ibu-ibu’ yang khawatir harga bahan pokok dan harga susu formula yang semakin mahal. Isu kenaikan harga susu dan bahan pokok tak terlalu dihiraukan pada saat itu, mengingat ranahnya sangat domestik dan hanya dianggap sebagai ‘tugas’ perempuan dalam rumah tangga. Tetapi politik keseharian inilah yang kemudian menunjukkan betapa bobroknya kondisi ekonomi yang disebabkan pemerintahan yang terlalu terpusat dan menekan.

Metode dan pembingkaian masalah yang serupa dilakukan oleh Ibu Berisik, sebuah kelompok perempuan, yang memiliki slogan ‘parenting itu politis’, mengaitkan bagaimana isu-isu domestik itu erat hubungannya dengan Politik, dengan huruf kapital P. Dalam protesnya, mereka kerap membawa alat-alat yang sering ditemukan di dapur seperti spatula ataupun panci untuk melawan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di ketiga gerakan ini, walau terdapat pukulan mundur yang sarat akan kekerasan dari otoritas, mereka tak gentar untuk melawan pemerintahan yang semakin menekan. Perawatan menjadi seragam dan senjatanya.
Inilah makna perawatan sebagai taktik dan metode perlawanan.
Perawatan sebagai bahan utama keberlanjutan gerakan
Agar perlawanan di Indonesia tetap berlanjut dan aksesibel, gerakan feminis mengamini bahwa perawatan adalah hal sakral yang harus selalu ada dalam pengorganisiran. Misalnya, Women’s March dan Aliansi Perempuan Indonesia selalu memastikan gerakan dan aksi protes mereka tetap inklusif. Isu-isu yang diangkat selalu menyertakan isu ragam gender dan seksualitas. Secara teknis, mereka bahkan menyediakan Juru Bahasa Indonesia (JBI) agar teman tuli tetap bisa hadir dan ikut.
Perawatan dalam gerakan juga terlihat di beberapa praktik mitra Dayakita, sebuah inisiatif Humanis tentang ekosistem dukungan untuk kerja perawatan yang sudah berjalan dalam setahun terakhir. Mitra Dayakita yang tersebar di banyak wilayah telah mengimplementasikan inisiatif perawatan untuk keberlangsungan gerakan.
Di Sumatra Utara, Perempuan Hari Ini merawat dengan cara menelusuri dan mendokumentasikan sejarah panjang perempuan dan ragam gender yang tak pernah terlihat dan diakui di Medan, Sumatra Utara. Inisiatif pengarsipan ini merupakan upaya agar perlawanan feminis tak disingkirkan dari memori gerakan sosial kota tersebut. Tetapi bagi Perempuan Hari Ini, dampak baiknya tak hanya dalam hasil program, melainkan dalam proses membangun kedekatan emosional dengan orang-orang yang ditemui.
Dalam perjalanan mereka, perawatan tumbuh sebagai proses saling menyembuhkan, dalam ‘persaudarian’ yang tumbuh di perjalanan menapak tilas sejarah feminis yang membuat mereka terhubung dengan Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia (PPHAM) dari organisasi lain. Yang membekas di hati adalah kesadaran bahwa ruang untuk berkumpul dan beristirahat malah muncul dalam percakapan-percakapan tentang keseharian, bukan ketika diskusi analisis kebijakan atau cara konsolidasi gerakan.

Gamacca, mitra lain Dayakita, menggunakan turnamen olahraga untuk menjangkau komunitas di luar jaringan yang selama ini tak terpapar dengan isu hak asasi manusia. Dalam turnamen olahraga ini, ruang aman dibangun dan proses saling belajar tentang identitas dan keberagaman tidak hanya menjadi pengetahuan yang dimiliki segelintir orang saja. Turnamen ini bukan sekadar perlombaan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan rasa aman dalam kebersamaan.
Artikel ini tidak bermaksud mengatakan bahwa perawatan adalah penyembuh seluruh masalah dalam gerakan sosial. Artikel ini juga tidak mengatakan bahwa gerakan feminis benar-benar sudah mempraktikkan perawatan.
Namun, artikel ini berupaya memperlihatkan/menelusuri bagaimana gerakan feminis mempraktikkan politik perawatan dari waktu ke waktu, baik untuk keberlanjutan gerakan maupun sebagai metode perlawanan”
Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana praktik perawatan tumbuh dan mengakar dalam gerakan feminis. Gerakan juga seharusnya memperhatikan kesehatan individu yang menggerakkan, di mana hubungan relasional harusnya diperkuat. Tak dipungkiri, Perawatan adalah cara yang perlu terus dilakukan untuk menjadi alternatif dari metode-metode pengorganisiran gerakan yang maskulin. Perawatan dapat menggantikan situasi di mana individu dibiarkan merasa harus sendirian dalam perjuangan dengan cara mengintegrasikan pengalaman yang sangat spesifik, yang muncul dari konteks dan pengalaman hidup perempuan yang otentik, dalam jantung pergerakan kita.

