Lensa Keberagaman, Kumpulan Foto Toleransi

Civic Rights in A Digital Age (CRIDA)

Lensa Keberagaman, Kumpulan Foto Toleransi

Humanis Foundation

Fotografi kian hari kian memasyarakat. Selain peralatannya makin mudah didapatkan, harganya pun semakin murah. Kini hampir semua orang pernah memotret, baik dengan kamera telepon cerdas maupun dengan kamera serius. Ada berbagai alasan orang untuk memotret, dari sekadar pamer kehadiran di satu tempat yang pantas digembar-gemborkan di media sosial, sampai dengan memotret sebagai sarana dokumentasi, seperti yang dilakukan oleh para jurnalis.

Berbagai tempat indah, adat budaya, dan hal-hal lain yang dulu mungkin cuma diketahui beberapa orang tertentu saja, kini terekam dalam foto yang kualitasnya semakin hari semakin baik dan di berbagai media yang bisa diakses oleh semua orang. Berbagai kegiatan manusia bahkan dari pelosok terpencil pun, kini bisa mencuat ke permukaan dalam sekejap mata, di mana saja dan dari mana saja.

Namun, apakah semua kemudahan itu hanya akan sekedar menjadi kemudahan?

Berkaitan dengan pertanyaan di atas, menarik sekali untuk melihat upaya yang dilakukan Pamflet dalam mengajak generasi anak Sekolah Menengah Atas untuk merasakan dan mempelajari tentang realita toleransi dan keberagaman di daerahnya masing masing lewat fotografi.

Di Jakarta, mereka bergerak ke daerah utara tepatnya di Cilincing, untuk berkenalan dengan masyarakat nelayan di sana; berkunjung ke Krematorium Cilincing, Masjid Al Alam dan Vihara Lalitavistara. Mereka juga dipertemukan dengan para ibu anggota Paduan Suara Dialita yang berisikan penyintas dan keluarga korban 1965. Di Pontianak, para peserta lensa keberagaman Youth Challenge mengunjungi Vihara Giripati Mulawarman yang bersebelahan dengan masjid Al Amien di daerah Kubu Raya, Pontianak. Sedangkan para peserta di Kupang mengunjungi Pura Giri Kertha Bhuwana dan Vihara Pubbaratana. Diawali dengan persiapan yang matang, mereka dibekali dengan ragam teknis fotografi dan bagaimana membuat cerita foto serta materi tentang toleransi dan keberagaman oleh para kakak dari Pamflet. Selanjutnya terjun ke lokasi tujuan.

Melihat realitas sosial dan kemudian menerjemahkannya ke dalam sebuah cerita foto saat ini mulai banyak dilakukan di Indonesia. Sementara itu di berbagai negara lain, cerita foto sudah menjadi kebiasaan umum karena sudah menjadi bahan pelajaran sekolah sejak anak-anak menginjak usia kelas menengah pertama. Hasil rekaman lensa akan menjadi sebuah rekaman nyata yang berguna sebagai bahan analisa bagi perwujudan toleransi dan keberagaman di tingkat lokal maupun nasional.

Dahulu orang beranggapan bahwa rekaman atas suatu tempat seharusnya hanya untuk yang indah-indah saja. Tapi sejalan dengan waktu, kita melihat bahwa realitas sosial, apa pun bentuknya, kini menjadi keharusan untuk direkam dari berbagai sisi untuk berbagai keperluan di masa yang akan datang. Basis data tidak cuma bahan tertulis saja, karena bagaimanapun, ada banyak hal yang akan bisa lebih jelas jika dipaparkan melalui lebih dari satu foto atau terangkum dalam sebuah cerita foto.

Sebuah cerita foto tentang realitas sosial bisa menyangkut sangat banyak hal yang saling terkait. Yang paling mudah dirasakan adalah adanya pemahaman baru tentang nilai-nilai kepercayaan yang selama ini tidak terjelaskan dalam pelajaran formal di dalam kelas.

Para peserta jadi memiliki pemahaman dan pengalaman bukan sekadar dari kulitnya saja. Cerita foto lain yang menyangkut tentang pemahaman akan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia tergambar dari beberapa karya bertema perjumpaan dengan para ibu penyintas 1965. Dari cerita foto yang terkumpul, tampak adanya pengalaman baru anak-anak muda ini dalam berinteraksi dengan masyarakat yang latar belakangnya berbeda-beda.

Salut untuk kerjasama tim Pamflet dan juga salut untuk para peserta lensa keberagaman Youth Challenge yang telah berhasil melakukan dan membuat cerita-cerita foto dengan menarik dan sangat baik. Semoga katalog ini bisa berguna, dan bisa memancing ide-ide segar lain mengenai gerakan HAM, toleransi dan keberagaman dari generasi masa depan Indonesia.

 

Adrian Mulya

Kurator Katalog

newsletter