
Civic Rights in A Digital Age (CRIDA) | September 29, 2026
Merawat Demokrasi, Melampaui Sekadar Perlindungan
Nisrina Nadhifah Rahman | Editor: Bolby Nasution
Ketika menyatakan bahwa demokrasi harus dilindungi, maknanya mungkin tak hanya sampai memastikan tidak ada kekerasan, sistem berjalan sesuai rancangan, dan pembela HAM tidak dikriminalisasi. Jangan-jangan, demokrasi juga membutuhkan sesuatu yang lebih sederhana: orang-orang yang saling menjaga agar tetap punya tenaga untuk bertahan dan terlibat.
Keterlibatan Humanis dalam Jagongan Hak Digital “Unmute Your Rights” pada 1–2 Agustus 2026 lalu menyisakan sejumlah refleksi yang rasanya perlu terus digali, lagi dan lagi. Bukan hanya oleh Humanis sebagai salah satu kolaborator dalam kegiatan tersebut, tetapi harapannya juga oleh kawan-kawan yang berjumpa di Yogyakarta, yang pasti memiliki pengalaman berbeda-beda mengenai ruang-waktu sipil dan demokrasi.
Salah satu ruang yang secara khusus kami fasilitasi dalam Jagongan Hak Digital adalah sesi bertajuk “Perawatan sebagai Keberlanjutan: Memelihara Solidaritas Lintas Krisis”.
Perawatan adalah Cara Kita Bekerja
Membicarakan perawatan berarti juga membicarakan hal-hal yang selama ini mungkin dianggap terlalu kecil, terlalu ‘domestik’, atau terlalu personal untuk disebut sebagai bagian dari kerja gerakan.
Padahal, perawatan bisa hadir dalam banyak bentuk: membangun relasi, menyediakan ruang untuk berekspresi, menyesuaikan waktu kerja dengan kebutuhan komunitas, makan bersama, membersihkan ruang bersama, memastikan ada yang mencatat hasil diskusi, hingga memberi kesempatan bagi seseorang untuk berhenti ketika kapasitas fisik dan mentalnya sudah tidak lagi memungkinkan. Dalam diskusi yang berlangsung saat sesi di JHD, perawatan dipahami sebagai kebiasaan sehari-hari yang dapat menjadi strategi politik, sistem, maupun terintegrasi dengan pekerjaan.
Lantas, apa saja yang selama ini justru melemahkan keberlanjutan gerakan kita?
Di dalam organisasi dan gerakan, kita hampir pasti berhadapan dengan relasi kuasa, senioritas, ketergantungan pada sumber pendanaan yang itu-itu saja, minimnya jaminan sosial bagi pekerja Organisasi Non-Pemerintah (NGO) apalagi aktivis komunitas, hingga tantangan mengelola hibah1 yang kerap memaksa pengelolanya ‘berkompromi’ dengan prinsip-prinsip perawatan.
Misalnya, ketika pemberi dana meminta organisasi dalam waktu yang sangat singkat membangun kesepakatan tertulis dengan lembaga pemerintah untuk suatu agenda tertentu, padahal relationship and trust building hampir tidak mungkin dilakukan secara instan.
Contoh lainnya adalah ketika jumlah pendanaan yang tersedia sangat terbatas, tetapi organisasi diminta mendistribusikannya kepada sebanyak mungkin penerima dan mengakomodasi sebanyak mungkin jenis kegiatan (yang sebagian besar diarahkan untuk kegiatan atau acara) sementara kegiatan internal, seperti peningkatan kapasitas, justru tidak diperbolehkan masuk dalam anggaran.Karena itu, mendorong perawatan sebagai prinsip kerja bersama bukan ‘beban’ untuk menambahkan satu agenda baru ke dalam kerja organisasi atau komunitas. Ia adalah upaya untuk mengubah hal-hal yang tanpa sadar melemahkan gerakan menjadi praktik-praktik yang memungkinkan kita bertumbuh, bertahan, dan menguat bersama.
Sesederhana dengan upaya kita agar relasi kerja dapat menjadi lebih setara, menyediakan ruang dan waktu, serta membangun ekosistem agar orang-orang di dalam gerakan dapat belajar dan bertumbuh bersama.
Belajar Merawat, Belajar Bertahan Hidup
Masih dalam sesi yang sama, kami mendengar cerita dari Irene bersama organisasinya yaitu Solidaritas Perempuan Flobamoratas di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bagi SP Flobamoratas, kerja perawatan bukanlah upaya untuk menetapkan satu standar tentang makna ‘perawatan’, melainkan cara agar makna perawatan itu dapat direbut kembali.
Belajar dari Perempuan Akar Rumput (PAR) di Poco Leok, NTT yang berada di garis depan perjuangan, perawatan termanifestasi dalam upaya membuat kebun organik di jalur masuk area ‘proyek’, membangun cara-cara untuk mengirimkan tanda ketika bahaya datang, dan menjaga agar pesan dapat diteruskan hingga ke rumah-rumah di atas bukit-bukit. Di sana, resiliensi tidak hanya dibangun dari pengetahuan formal, melainkan memanfaatkan ruang-ruang ritual dan pengetahuan lokal yang menjadi bagian inti dari modal untuk bertahan.
Kerja perawatan yang dilakukan perempuan pun menjadi perjuangan napas panjang yang mengutamakan keselamatan: melibatkan ibu-ibu, peramu obat tradisional, serta Perempuan Akar Rumput lainnya dengan persilangan pengalaman dan identitas. Di sinilah tercermin bahwa perawatan tidak lain tidak bukan adalah perihal bertahan hidup.

Lebih dari Sekadar Perlindungan
Di sesi lain, Humanis juga terlibat dalam pembicaraan tentang keamanan holistik. Pembicaraan ini menunjukkan bahwa banyak komunitas masih menghadapi berbagai bentuk ancaman: mulai dari doxxing, serangan digital, hingga ancaman langsung terhadap keamanan fisik. Sementara, kapasitas keselamatan dan keamanan holistik di tingkat komunitas masih terbatas.
Di tengah situasi begini, merawat tak lagi hanya berbicara tentang perlindungan saja.
Kerja-kerja demokrasi membutuhkan lebih dari sekadar mekanisme perlindungan. Kita juga membutuhkan ruang untuk pulih, membangun kembali kepercayaan, menjaga solidaritas, dan melanjutkan perjuangan. Maka kini, diskusinya sudah tidak melulu perihal: “bagaimana kita bertahan dari ancaman?” melainkan “bagaimana kita tetap punya alasan, tenaga, relasi, dan ruang untuk terus bergerak?”
Ruang sipil ternyata bukan hanya soal ada atau tidaknya tempat untuk berkumpul. Ia juga soal apakah kita masih memiliki waktu untuk berpartisipasi di dalam kehidupan publik.
Saat ini, aktivis semakin tergerus oleh tuntutan ekonomi, pekerjaan lain, biaya hidup, pekerjaan administratif, reporting donor, fundraising, dan berbagai kebutuhan pengelolaan organisasi. Akibatnya, waktu untuk membangun relasi dengan komunitas, melakukan refleksi, konsolidasi, dan pengorganisasian jangka panjang menjadi semakin tergerus.
Mungkin banyak dari kita yang sehari-hari terus mempertanyakan: “di mana ruang aman untuk berkumpul?”, padahal di saat yang sama kita juga perlu bertanya: “kapan kita masih punya waktu untuk berkumpul?”
Sebab, tersedianya ruang yang aman tetapi tidak ada waktu dan orang yang menghidupinya, pada akhirnya akan ‘percuma’ juga.
Melindungi Merawat Demokrasi

Dari sesi diskusi Humanis di JHD, semakin terlihat bahwa kerja-kerja perlindungan, pemulihan, solidaritas, dan perawatan sebenarnya tidak berdiri sendiri.
Hak digital, kebebasan sipil, keadilan restoratif, pluralisme, pengalaman perempuan di akar rumput, hingga keberlanjutan organisasi mungkin terlihat seperti isu yang berbeda. Namun semuanya berkelindan dalam satu pertanyaan: bagaimana memastikan orang dan komunitas tetap memiliki ruang, waktu, sumber daya, dan kapasitas untuk menentukan masa depan mereka sendiri?
Tantangan ruang waktu sipil tak bisa dilakukan sendirian. Kita membutuhkan jejaring, kolaborasi, berbagi sumber daya, pertukaran pengetahuan, dialog lintas isu dan lintas komunitas, serta pendekatan yang menempatkan pengalaman sebagai pusat.
Pada akhirnya, mungkin merawat demokrasi memang tidak selalu terlihat seperti kerja-kerja besar nan heroik.
Kadang, “merawat demokrasi” adalah ekosistem perawatan agar individu ingin tetap hadir, menyediakan ruang untuk bicara, mendengarkan tanpa merasa paling tahu, berbagi, mengambil alih pekerjaan seorang kawan ketika ia lelah, mengambil inisiatif, mencatat cerita agar tidak hilang, hingga sesekali, mengingatkan untuk memberi waktu jeda. Sebab demokrasi tidak hanya bertahan karena kita mampu merespons kedaruratan, tetapi juga karena ada orang-orang yang saling merawat setiap harinya.
Mungkin, pada akhirnya, merawat demokrasi berarti memastikan bahwa di tengah berbagai krisis yang datang silih berganti, kita masih punya satu sama lain untuk pulang, memulihkan diri, dan kembali bergerak bersama.

