
Climate Justice | June 2, 2026
Cara NURTURE Mengubah Sistem Pangan Lokal, Memberdayakan Satu Demi Satu Wirausahawan Lokal
Namira Fathya & Selma Theofany | Alih Bahasa: Ivana Azmi
Perlahan dan tenang, begitulah Kabupaten Manggarai berkembang. Di bagian timur, pohon kemiri tumbuh memenuhi perbukitan, sementara di dataran tinggi Deru, kopi menempati halaman-halaman belakang rumah hingga tepi lahan pertanian. Secara turun-temurun, tanaman-tanaman ini telah menjadi sumber makanan keluarga, obat penyembuhan kulit, dan penopang kehidupan komunitas. Kini, bagi generasi baru para wirausahawan di Manggarai Barat, tumbuhan tersebut menjadi bibit lahirnya usaha-usaha lokal.
Di Manggarai Barat, lebih dari 200 peserta tergabung dalam NURTURE, sebuah program dari salah satu mitra Urban Future (UF), Prestasi Junior Indonesia (PJI). Tujuh puluh delapan di antaranya terpilih untuk mengikuti Youth Entrepreneurship Camp. Dari jumlah tersebut, 47 peserta mendapatkan pendampingan bisnis intensif, dan 26 peserta berhasil menyelesaikan program sambil menunjukkan pertumbuhan bisnis maupun perkembangan diri yang signifikan. Di antara mereka adalah Rio, pendiri Nerra Coffee, dan Omik, pendiri Nggelok Tara. Lini usaha mereka berbeda. Satu bergerak di bidang kopi, sementara yang lain memproduksi produk perawatan tubuh berbahan alami. Namun, kedua usaha tersebut dibangun dengan prinsip yang sama: menciptakan nilai tambah dari hasil panen lokal melalui ekosistem yang lebih terintegrasi.
Rio dan Cerita di Balik Lahirnya Nerra Coffee

Gambar 1. Potrai pemilik Nerra Coffee Rio Berani saat penyelenggaraan Festival Pasar Kreasi Pangan.
Gerardus Kutrisman Trionistan, akrab disapa Rio, mendirikan Nerra Coffee pada tahun 2021. Awal perjalanan Rio sangat sederhana. Ia menjual kopi instan dengan sepeda, persis seperti tradisi kopi keliling yang sudah dikenal dan digemari di Indonesia.
Pada tahun 2022, usaha kecil itu berkembang menjadi brand miliknya sendiri: Nerra Coffee. Terinspirasi oleh pesatnya perkembangan Labuan Bajo, Rio memutuskan untuk membangun bisnis dari hal yang paling ia kuasai: kopi. Sejak awal, bisnis ini memiliki makna yang sangat personal bagi Rio.
“Banyak anggota keluarga saya petani kopi di Manggarai Barat,” ujarnya. “Kopi kami adalah robusta yang khas. Rasanya kuat dan pahit. Saya mulai membeli biji kopi langsung dari keluarga, lalu menyangrai dan menyeduhnya secara manual untuk benar-benar mengeluarkan rasa smoky dan pahitnya.”
Rio pertama kali bertemu dengan mentor bisnisnya, Rian dari PJI, saat mereka sering menghabiskan waktu bersama pada 2024. Rian kemudian mengajak Rio untuk bergabung dengan NURTURE pada 2025. “Dia seperti saudara bagi saya. Dia bakal menegur kalau saya mulai hilang fokus, dan mengingatkan bahwa bisnis harus punya target. Dia mendorong kami untuk berani menargetkan hal yang lebih tinggi,” kenang Rio sambil tertawa.
“Walaupun terasa sulit, pada akhirnya saya benar-benar merasakan betapa bermanfaatnya semua pelatihan itu. Sesi coaching-nya sangat membantu dari segi pola pikir, pengelolaan bisnis dan keuangan, maupun manajemen waktu. Dampaknya juga terlihat jelas pada pendapatan kami secara keseluruhan, yang mulai meningkat sejak saya bergabung dengan NURTURE.”
Tantangan yang dihadapi Rio hanyalah sebagian kecil dari persoalan yang jauh lebih besar: gentrifikasi. Ketika harga-harga di suatu daerah menjadi semakin mahal, hal itu bisa mengakibatkan tersingkirnya warga setempat. Banyak orang Indonesia mengenal Labuan Bajo lewat pantainya yang masih alami, komodo, dan wisata laut. Pertumbuhan pariwisata yang begitu pesat ini menarik orang dari berbagai wilayah di Manggarai, mencakup seluruh bagian barat Pulau Flores, untuk datang mencari peluang. Rio adalah salah satu dari banyak migran lokal tersebut. “Keuntungan dari pariwisata tidak dibagi secara merata. Semakin sulit bagi kami untuk bisa bertahan hidup di sini,” ujar Rio pelan.
Rio berusaha merespons realitas ini melalui langkah-langkah kecil yang penuh pertimbangan. Ia menjaga harga produk Nerra agar tetap terjangkau, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp25.000, tanpa mengorbankan kualitas yang ditawarkan. “Saya menjaga harga produk tetap terjangkau agar teman-teman saya masih bisa menikmati. Bagaimanapun, saya pede dengan apa yang kami tawarkan,” ujarnya.
Kini, Rio secara rutin membuka lapaknya bagi sesama peserta NURTURE, memberi mereka ruang untuk memamerkan dan menjual produk mereka berdampingan dengan produknya sendiri.
Kecantikan yang Tumbuh dari Alam: Omik dan Nggelok Tara

Gambar 2. Wilhemina Ladung pemilik Nggelok Tara memerapikan barang di booth pada acara Festival Pasar Kreasi Pangan.
Di antara bisnis peserta NURTURE yang bergerak di bidang makanan dan minuman, Nggelok Tara berani berbeda. Didirikan oleh Wihelmina Ladung atau Omik, usaha ini memproduksi produk perawatan diri alami yang berbahan dasar lokal: minyak rambut dari kemiri, masker wajah kelor, masker kunyit, dan minyak kelapa. Seperti Rio, Omik tidak menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Sebaliknya, ia mengamati praktik-praktik yang telah lama ada di komunitasnya dengan lebih dekat, lalu menemukan cara untuk mengembangkannya menjadi produk yang berkelanjutan.
Tumbuh besar di Manggarai, Omik dikelilingi oleh berbagai ramuan perawatan kecantikan buatan rumahan. Bahan-bahan itu kini justru menjadi basis usahanya.
Dengan mengambil bahan langsung dari petani lokal, Omik turut menjaga keberlanjutan rantai pasok lokal. Sambutan pasar pun positif. Bersama produk lainnya, seperti minyak kelapa dan berbagai masker wajah, minyak kemiri dan masker kelornya menjadi yang paling cepat terjual, sekaligus membuka peluang bagi para reseller-nya yang sebagian besar adalah perempuan.
Bagi Omik, NURTURE menjadi bagian penting dalam memperkuat aspek-aspek bisnis yang ia rasa paling menantang, terutama pencatatan keuangan dan administrasi bisnis. Program ini sejatinya membutuhkan komitmen ekstra. Sesi-sesinya sengaja diadakan pada akhir pekan agar tidak berbenturan dengan jadwal kerja peserta, namun tentu, hidup selalu punya tantangannya sendiri.
Sempat suatu waktu, Omik harus menghentikan sementara partisipasinya untuk merawat ibunya yang sakit. Namun, ia memilih untuk tetap melanjutkan. “Saya ingin membuktikan diri kepada orang tua saya. Awalnya, saya sempat diremehkan karena tidak mengikuti jalan yang dipilih ayah saya,” ujarnya sambil tertawa. Seiring waktu, bisnis ini mulai mengubah bukan hanya pendapatannya, tetapi juga rasa percaya dirinya.
“Dengan brand yang semakin stabil, saya kini jauh lebih yakin dengan bisnis saya sendiri, dan akhirnya bisa membuktikan diri kepada ayah saya. Sekarang beliau justru menjadi pendukung terbesar saya, selalu bangga menunjukkan produk saya kepada teman dan kerabatnya.”
Pasar Kreasi Pangan: Sebuah Titik Temu

Gambar 3. Pemaparan Diseminasi Dokumenter Kembali Ke Akar pada acara Festival Pasar Kreasi Pangan.
Pada 29 April 2026, UF Indonesia, bekerja sama dengan pemerintah daerah Manggarai Barat, menyelenggarakan Pasar Kreasi Pangan sebagai perayaan atas satu tahun perjalanan kerja di Manggarai Barat. Salah satu sorotan utama acara ini adalah seremoni kelulusan bagi 26 peserta NURTURE yang telah menyelesaikan program.
Di lokasi, berbagai booth menampilkan produk yang dikembangkan oleh para pemuda yang terlibat dalam UF, masing-masing merepresentasikan sisi yang berbeda dari sistem pangan lokal.
Selama acara berlangsung, ada konsorsium ASLI yang menampilkan berbagai komoditas dari sistem jaminan partisipatif. Ada juga WRI Indonesia yang membagikan riset serta modul edukasi mereka tentang limbah pangan. Menjelang sore, para peserta mempresentasikan hasil dari SAPA BUMI, sebuah program ideasi yang dijalankan oleh Konsorsium KOPAJA. Saat matahari mulai terbenam, Konsorsium Pangan Bernas mengadakan sesi cicip pangan lokal. Kemudian pada malam hari, Konsorsium Simpang Belajar menyelenggarakan pemutaran film dan diskusi tentang pengarsipan pengetahuan pangan lokal.
Seperti yang selalu menjadi ciri Manggarai Barat, acara pun ditutup dengan pertunjukan musik dan tari. Pada akhirnya, Pasar Kreasi Pangan adalah perayaan atas upaya kolektif, sebuah cerminan dari apa yang bisa terjadi ketika anak muda diberi ruang untuk membentuk masa depan sistem pangan mereka sendiri. Semangat inilah yang ingin terus ditumbuhkan oleh UF di wilayah tersebut.

