Solidaritas Regional itu Tak Terelakkan, Kenapa?

Civic Rights in A Digital Age (CRIDA)

Solidaritas Regional itu Tak Terelakkan, Kenapa?

Penulis: Alfa Gumilang. Editor: Bolby Nasution.

Ada kecenderungan situasi dan kondisi yang mirip yang dialami oleh kelompok masyarakat sipil di Asia Tenggara. Kebebasan berekspresi yang direspons dengan represif, demokrasi yang makin mundur, pemerintah yang anti-kritik, korupsi yang merajalela, arah ekonomi yang makin kapitalistik, hingga krisis iklim yang semakin memburuk. 

Kemiripan situasi ini sayangnya bukan hal yang baru, kolonialisme yang mencengkeram Asia Tenggara pada masa lalu juga menunjukan kemiripan kondisi masyarakat pada saat itu. Begitu pula pada kisaran tahun 90an ketika krisis ekonomi melanda negara-negara di Asia Tenggara, lagi-lagi masyarakat lah yang harus menjadi korban. 

Di dalam tiap fase sejarah juga mengajarkan pada kita tentang solidaritas antar masyarakat sebagai satu fondasi penting. Pertama sebagai kekuatan untuk bertahan, kedua sebagai kekuatan untuk mengubah kondisi.

Solidaritas sebagai kekuatan tentu perlu didorong semakin luas dan semakin besar agar kelompok masyarakat sipil juga semakin kuat. Melewati batas-batas negara, melewati batas-batas generasi, dan melibatkan banyak kelompok, tak hanya dari kalangan aktivis saja. Inilah kekuatan sejati untuk mempertahankan demokrasi dan mendorongnya menjadi lebih baik.

Dalam beberapa tahun terakhir, solidaritas masyarakat yang melewati batas-batas tersebut menguat. Ketika di satu negara sedang mengalami gejolak, poster dan mural solidaritas muncul dan tersebar di media sosial, atau juga munculnya tagar #SEAblings sebagai bentuk dukungan dari masyarakat Asia Tenggara pada driver online di Indonesia pada gejolak di akhir Agustus lalu.

Ini mungkin terlihat kecil bentuknya, tapi ini adalah dukungan moril yang penting atas rasa senasib yang dialami, dan mungkin akan jadi embrio yang penting ke depannya untuk solidaritas yang lebih besar. Embrio ini harus dituntun agar menjadi lebih strategis dan membuka ruang kreatif dan imajinatif dalam melahirkan bentuk-bentuk solidaritas.

Gambar 1. Tampilan Ilustrasi Solidaritas Regional dalam Acara Bangkok Week

Acara Bangkok Week oleh Humanis pada akhir Oktober hingga awal November 2025 lalu menjadi langkah awal kami untuk membayangkan solidaritas regional seperti apa yang perlu di bangun oleh masyarakat sipil di Asia Tenggara. 

Diadakan bersama SEA Junction di ruang kerjanya, kami mengeksplorasi berbagai kesamaan, mencari benang merah dan titik temu, serta membangun platform yang memungkinkan solidaritas hidup dalam jangka panjang, semakin maju, dan yang tak kalah penting adalah solidaritas yang berkelanjutan.

Mengutip pernyataan dari Bivitri Susanti, salah satu panelis dalam acara Bangkok Week, solidaritas bisa menjadi ruang bersama untuk belajar. 

“Solidaritas harusnya menjadi wadah untuk saling belajar, bukan dalam bentuk organisasi yang terstruktur yang membatasi kreativitas gerakan,” ujarnya. 

Gambar 2. Bivitri Susanti menjadi salah satu panelis dalam Acara Bangkok Week

Harapannya, platform ini dapat menjadi ruang bersama untuk saling berbagi cerita, berbagi pengalaman, berbagi pembelajaran, hingga memperluas jejaring. Yang di kemudian hari catatan-catatan tersebut akan manjadi data yang penting untuk merumuskan peta jalan solidaritas yang strategis antar masyarakat sipil.

Lalu ke mana arah dari gerakan solidaritas ini dibangun? Solidaritas ini dibangun untuk bisa menjawab berbagai persoalan dan tantangan yang tertulis di bagian awal artikel ini. Kebebasan berekspresi yang dilindungi, demokrasi yang makin maju, pemerintah yang mendengarkan suara warganya, korupsi yang hilang, ekonomi yang berkeadilan, hingga kondisi iklim yang makin membaik.

Toh bukankah ketika para pemangku kepentingan dapat berkonsolidasi, rakyat juga dapat menaut gerakannya dengan keprihatinan dan harapan yang sama? Dapat saling merawat tanpa melihat batas-batas negara? Lagi pula kita sudah melihat bagaimana ketika negara tak hadir atau bahkan merepresi, rakyatlah yang bergerak untuk saling melindungi.

newsletter